My Lovely Little Green Island
Bersyukur, Berdoa, Berusaha, Ikhlas, dan Sabar…Archive for Spirit of Love..The Way to GOD
Mahabbah…
Salam…ini sekedar sharing buat temans ku sesama pejalan yang masih awam dan baru mulai seperti ku…buat para guru terimakasih untuk semua masukan dan pengalaman yang akan diberikan…
salam damai…
cerita tentang mahabbah…
Jika ada pecinta di dunia ini wahai muslim, itu Aku
Jika ada mukmin atau pertapa Kristiani, itulah Aku.
Ampas anggur,pelayan kedai minuman, meja, harpa dan musik
Kekasih, lilin, minuman dan senda gurau pemabuk, itulah Aku
Tujuhpuluh dua kredo dan sekte di dunia ini,
Sebenarnya tidak ada: Aku bersumpah demi Tuhan bahwa
Setiap kredo dan sekte, itulah Aku.
Tanah, udara, air, dan api, duhai tubuh dan jiwa,itulah Aku.
Benar dan salah, baik dan buruk, mudah dan sulit dari awal hingga akhir, itulah Aku.
Pengetahuan, ilmu, asketisisme, keshalehan dan iman, itulah AKu.
Api neraka, tentu saja dengan apinya yang berkobar kobar,
Ya, surga, eden dan bidadari, itulah Aku.
Bumi dan langit dengan segala isinya, itulah Aku.
Malaikat, peri, jin dan manusia, itulah Aku.
(Maulana Jalaluddin Rumi)
Dalam setiap langkah, seorang hamba dituntut untuk selalu berusaha menjaga, memperbaiki dan meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaannya, serta perlu menyadari posisinya setiap saat, sebagai hamba Allah (‘abid) yang harus taat dan tunduk terhadap segala titahNYA.
Dalam perjalanan menuju Allah seorang hamba melakukan berbagai cara, antara lain dengan mengasingkan diri dari keramaian, menjauhkan diri dari kehidupan materi, memilih hidup sederhana. semua aktivitas tersebut dikenal sebagai zuhud (kehidupan asketis). Semua perjalanan yang dilakukan semata-mata dalam rangka menemukan kehidupan, kebahagiaan kekal dan abadi. Perjalanan spiritual tersebut kemudian dikenal dengan perjalanan dan pengalaman sufistik.
Tujuan perjalanan sufistik tersebut adalah semata-mata untuk memperoleh hubungan langsung didasari dengan Tuhan, sehingga disadari benar bahwa seseorang berada di hadirat Allah swt. Intisari dari ajaran sufisme ini adalah kesadaran adanya komunikasi dan dialog antara ruh manusia dengan Allah melalui cara mengasingkan diri dan berkontemplasi. Adapun kesadaran berada dekat dengan Allah itu dapat mengambil bentuk ittihad, hulul, ma’rifat ataupun mahabbah…
Tuntunan ajaran tasawuf pada dasarnya menekankan pada aspek esoteris (batin), sehingga dalam prakteknya seorang salik(pelaku tasawuf) senantiasa ingin menyucikan dirinya dari hal-hal yang kotor yang masih melekat pada hati dan jiwanya, kemudian mengisinya dengan hal-hal yang dapat mendekatkan diri kepada Allah, dan hatinya tidak terpisahkan dari kekasih hatinya, Allah swt.sehingga dapat dibayangkan jika Islam dipisahkan dari aspek esoterisisme nya, maka ia hanya menjadi kerangka formalitas saja, sehingga orang-orang yang rasionalistik hanya menerima Islam sebagai keformalan semata.
Mengenai cinta (mahabbah), sangat menyangkut aspek esoteris, yang merupakan jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. Merupakan tingkat tertinggi dalam pencapaian menuju Allah. Perintis aliran asketisisme dalam Islam, berdasarkan cinta pada Allah (mahabbatullah), adalah Rabi’ah Al Adawiyah. Berikut ungkapan cinta Rabi’ah :
Kujadikan Kau teman berbincang dalam qalbu
Tubuhku pun biar berbincang dengan temanku
Dengan temanku tubuhku berbincang selalu
Dalam qalbu terpancang selalu kasih cintaku
Rabi’ah yang pertama sekali menganalisis pengertian cinta dan menguraikannya : cinta yang tulus ikhlas dan cinta yang berdasarkan permintaan akan sesuatu dari Allah swt.
Cinta tidak dapat dipelajari manusia, karena ia merupakan suatu anugerah dari Tuhan dan datang atas kasih NYA. Mendapatkan maqam cinta tidaklah mudah, melainkan dengan jalan dan cobaan yang berliku. Cinta mendasari iman. perilaku takwa seorang mukmin yang bernuansa cinta adalah karena faktor kepatuhan kepada kekasih. Semua yang wujud tidak akan harmonis kecuali bila digerakkan oleh rasa cinta terhadap yang menjadikannya sendiri. Bahkan alam semesta adalah alam cinta, proses kehidupan dan grafitasi bumi terjadi karena cinta.
Seorang Rumi mengungkapkan “ andai tidak ada cinta, maka alam ini tidak lagi mempesona, kicauan burung tidak lagi merdu, panorama alam tidak lagi indah, bahkan dunia akan membeku tanpa makna”.
Berikut gubahan puisi “Cinta Lautan Tak Bertepi” Jalaludin Rumi…
Cinta adalah lautan tak bertepi, laut hanyalah serpihan buih belaka
Ketahuilah! Langit berputar karena gelombang cinta,
Andai tak ada cinta dunia akan membeku
Bila bukan karena cinta, bagaimana sesuatu yang organic berubah menjadi tumbuhan?
Bagaimana tumbuhan akan mengorbankan diri demi memperoleh ruh (hewan)?
Bagaimana ruh (hewan) akan mengorbankan diri demi nafas (ruh) yang
Menghamili Maryam?
Semua itu akan menjadi beku dan kaku bagai salju, tidak bisa terbang serta mencari padang ilalang bagai belalang
Setiap atom jatuh cinta pada yang Maha Sempurna dan naik ke atas laksana tunas
Cinta-cinta mereka tak terdengar, sesungguhnya adalah lagu pujian Tuhan….
Masih banyak pendapat sufi lainnya tentang konsep mahabbah itu sendiri. Namun yang terpenting adalah, cinta Ilahi merupakan maqam puncak di antara maqam-maqam yang lain. Mahabbah tidak dapat digambarkan dan didefenisikan, diberi batasan dan juga tidak dapat dijelaskan hakikat dan rahasianya. Tetapi mahabbah itu hanya dapat dirasakan bagi sufi yang sudah masuk ke dalam maqam mahabbah dan sudah pernah mengalaminya. (taken from cinta ilahi)
mdh2an postingan yang hanya secuil ini bisa memberikan setidaknya sedikit gambaran… buat mereka yang ingin mencapainya tentu saja perlu melakukan step yang cukup banyak,bertobat, zuhud, faqr, tawakkal, dan banyak hal lainnya, agar kita sampai pada maqam tertinggi, yaitu al-hubb al-Ilahi…
salam damai sesama pejalan cinta di jalan Allah swt… ![]()
They can’t take that away
They can’t take that away…Mariah carey
They can say,
Anything they want to say,
Try to bring me down,
But I will not allow anyone to succeed hanging clouds over me,
And they can try
How to make me feel that I,
Don’t matter at all,
But I refuse to falter in what I believe or loose faith in my dreams
‘Cause there’s,
There’s a light in me,
That shines brightly,
They can try,
But they can’t take that away from me
From me
No no nooo
Oh they,
They can do
Anything they want to you,
If you let them in,
But they won’t ever win,
If you cling to you pride, and just push them aside,
See I,
I have learned,
There’s an inner peace I own,
Something in my soul that they can not possess
So I won’t be afraid and the darkness will fade
‘Cause there’s,
There’s light in me me,
That shines brightly, yes
They can try,
But they can’t take that away from me
No oh oh,
They can’t take this
Precious love I’ll always have inside me,
Certainly the Lord will guide me where I need to go
Woah, woah
They can say
Anything they want to say,
Try to bring me down,
But I won’t face the ground,
I will rise steadily sailing out of their reach,
Although they do try,
How to make me feel that I,
Don’t matter at all,
But I refuse to fall,
Tell me what I believe or loose faith in my dreams,
‘Cause there’s a light in me,
That shines brightly yes
They can try but they can’t take that away from
Me
From me
No no nooo
Me
one of the song that inspire me..when i feel down…
Pikir, Rasa, Fithrah…
Muhasabah of The Day
Sesaat di penghujung malam, terbersit pertanyaan (yang sudah sering dipertanyakan dan muncul kembali di saat banyak mata terlelap)…mengenai siapakah saya:
- Saya menurut pikiran
- Saya menurut perasaan
- Saya apa adanya (secara fithrah)
Yang kemudian saya sadari bahwa saya menurut pikiran dan perasaan saya adalah sesuatu yang relativistic, yang berubah-ubah, yang selalu bergoyang mengikuti arus kehidupan…sehingga saya seharusnya berpegang pada diri saya apa adanya menurut fithrah saya, sebagai khalifatullah di bumi, yang mampu mengendalikan arus kehidupan, sebagai insan merdeka, yang tidak condong dan didominasi oleh sesama makhluk, yang tiada menyembah sesuatu kecuali Allah swt…
Secara primordial manusia telah dikaruniai fitrah. Fitrah sebagai karakter hakiki dan kepercayaan dasar manusia, yakni fitrah tauhid, suatu keyakinan akan keesaan tuhan (Allah swt) dan kesaksian bahwa tiada Tuhan (ilah) kecuali Dia, yakni allah swt. Dia itu MahaTunggal. Maha Berkuasa, Maha Menatap, Maha Mengetahui, Maha Dibutuhkan atau tempat satu-satunya bergantung. Oleh karena itu, Dia sebagai tujuan akhir dari setiap diri kita maupun semua makhluk NYA.
Hal ini ditegaskan dalam QS Al-A’raaf:172, yaitu:
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Allah)”.
Fitrah tauhid jika senantiasa terpelihara berimbas dalam kehidupan sehari-hari berupa rasa “ikhlas”. Yakni, tindakan dan amalan apapun yang dilakukan berprinsip hanya karena Allah lillahi ta’ala. Tidak karena ilah-ilah/berhala yang lain. Ikhlas inilah yang menjadi landasan dari segala tindakan dan perbuatan kita, jika kita ingin semuanya berarti dan memiliki dimensi ibadah. Sebaliknya, jika “fitrah tauhid” ini dikotori dan dirusak oleh hadirnya ilah-ilah yang lain, yang bersarang di hati, maka dalam kehidupan sehari-hari akan melahirkan “syirik”. Syirik inilah yang menjadi sebab, mengapa amalan apapun yang kita lakukan akan berubah menjadi sia-sia, buruk dan batil. Ikhlas dalam hal ini jelas menjadi lawan dari syirik. Dengan ikhlas amal kita bermakna,dengan syirik amal kita akan sia-sia.
Ilah-ilah itu bukan lagi berbentuk berhala/patung atau dewa-dewa yang dipuja-puja, tapi bisa berupa “atribut-aribut artificial yang kita sandang”: nafsu kita, ego kita, tradisi/kebiasaan-kebiasaan buruk kita, kebodohan kita, ambisi/kepentingan pribadi kita, harta kekayaan kita, jabatan kita, profesi kita, gelar kita, rumah kita, mobil kita, popularitas kita, keluarga kita, pengetahuan kita, teman kita, orang yang kita cintai, tanda tangan kita, kecantikan/kegantengan kita, dan sebagainya.
Banyak tindakan yang kita lakukan hanya karena disandarkan oleh atribut-atribut kita sendiri. Atribut ini sebenarnya merupakan manifestasi topeng-topeng kehidupan yang dapat menghalangi hubungan kita dengan Allah. Kita sering bersembunyi di balik topeng-topeng ini demi mempertahankan harga diri dan kehormatan. Atribut-atribut lahiriyah seperti ini akan sangat berbahaya jika kita tidak bisa menempatkannya dengan benar, sebagai konsekuensi dan amanah dalam kehidupan. Jika “keberadaan dan kesadaran kita hanya merupakan derivate dari atribut-atribut artificial” tersebut, maka dapat merendahkan diri kita menjadi hamba sesuatu selain Allah. Ini adalah derajat yang sangat nista dan begitu rendah di mata Nya. Hal ini Allah tegaskan dalam salah satu firman Nya QS Al – A’raaf: 37.
Agar kita tetap mampu mempertahankan jati diri sebagai hamba Allah dan khalifah NYA, yakni agar “fitrah tauhid” tetap terjaga, maka hal yang pertama adalah kita harus buang segala bentuk ilah, kotoran dan penyakit yang melekat padanya terlebih dahulu. Hal ini tidak bisa kita raih, kecuali jika kita senantiasa melakukan zikir kepada Allah (zikrullah). Ketika hati sudah suci, bersih dan lurus, maka niat yang bersumber darinya akan memiliki keikhlasan (beramal hanya karena Alla) yang sangat kita butuhkan. Demikian pula, jika hati telah tersucikan, maka akan baik pulalah perilaku seluruh anggota tubuh kita. Dari sini lahirlah akhlak dan amal shaleh sebagai manifestasi ketakwaan. Inilah yang dimaksud hati yang sudah berzikir( source taken from Menzikirkan Mata Hati)...
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)”
Salam buat saudara2ku sesama pejalan cinta menuju Allah swt…
Terimakasih buat guru2ku yang telah menginspirasi dan memberikan banyak tausiyah dalam perjalanan ini…perbedaan itu indah jika kita mampu menyikapinya secara bijaksana…semua pilihan ada di tangan kita, ingin mengikuti pikiran, rasa, atau fithrah…
Hasbunallah ni’mal waqiil..ni’mal maulaa wanni’mannashiir..