My Lovely Little Green Island

Bersyukur, Berdoa, Berusaha, Ikhlas, dan Sabar…

Pikir, Rasa, Fithrah…

Muhasabah of The Day

Sesaat di penghujung malam, terbersit pertanyaan (yang sudah sering dipertanyakan dan muncul kembali di saat banyak mata terlelap)…mengenai siapakah saya:

-          Saya menurut pikiran

-          Saya menurut perasaan

-          Saya apa adanya (secara fithrah)

Yang kemudian saya sadari bahwa saya menurut pikiran dan perasaan saya adalah sesuatu yang relativistic, yang berubah-ubah, yang selalu bergoyang mengikuti arus kehidupan…sehingga saya seharusnya berpegang pada diri saya apa adanya menurut fithrah saya, sebagai khalifatullah di bumi, yang mampu mengendalikan arus kehidupan, sebagai insan merdeka, yang tidak condong dan didominasi oleh sesama makhluk, yang tiada menyembah sesuatu kecuali Allah swt…

Secara primordial manusia telah dikaruniai fitrah. Fitrah sebagai karakter hakiki dan kepercayaan dasar manusia, yakni fitrah tauhid, suatu keyakinan akan keesaan tuhan (Allah swt) dan kesaksian bahwa tiada Tuhan (ilah) kecuali Dia, yakni allah swt. Dia itu MahaTunggal. Maha Berkuasa, Maha Menatap, Maha Mengetahui, Maha Dibutuhkan atau tempat satu-satunya bergantung. Oleh karena itu, Dia sebagai tujuan akhir dari setiap diri kita maupun semua makhluk NYA.

Hal ini ditegaskan dalam QS Al-A’raaf:172, yaitu:

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Allah)”.

Fitrah tauhid jika senantiasa terpelihara berimbas dalam kehidupan sehari-hari berupa rasa “ikhlas”. Yakni, tindakan dan amalan apapun yang dilakukan berprinsip hanya karena Allah lillahi ta’ala. Tidak karena ilah-ilah/berhala yang lain. Ikhlas inilah yang menjadi landasan dari segala tindakan dan perbuatan kita, jika kita ingin semuanya berarti dan memiliki dimensi ibadah. Sebaliknya, jika “fitrah tauhid” ini dikotori dan dirusak oleh hadirnya ilah-ilah yang lain, yang bersarang di hati, maka dalam kehidupan sehari-hari akan melahirkan “syirik”. Syirik inilah yang menjadi sebab, mengapa amalan apapun yang kita lakukan akan berubah menjadi sia-sia, buruk dan batil. Ikhlas dalam hal ini jelas menjadi lawan dari syirik. Dengan ikhlas amal kita bermakna,dengan syirik amal kita akan sia-sia.

Ilah-ilah itu bukan lagi berbentuk berhala/patung atau dewa-dewa yang dipuja-puja, tapi bisa berupa “atribut-aribut artificial yang kita sandang”: nafsu kita, ego kita, tradisi/kebiasaan-kebiasaan buruk kita, kebodohan kita, ambisi/kepentingan pribadi kita, harta kekayaan kita, jabatan kita, profesi kita, gelar kita, rumah kita, mobil kita, popularitas kita, keluarga kita, pengetahuan kita, teman kita, orang yang kita cintai, tanda tangan kita, kecantikan/kegantengan kita, dan sebagainya.

Banyak tindakan yang kita lakukan hanya karena disandarkan oleh atribut-atribut kita sendiri. Atribut ini sebenarnya merupakan manifestasi topeng-topeng kehidupan yang dapat menghalangi hubungan kita dengan Allah. Kita sering bersembunyi di balik topeng-topeng ini demi mempertahankan harga diri dan kehormatan. Atribut-atribut lahiriyah seperti ini akan sangat berbahaya jika kita tidak bisa menempatkannya dengan benar, sebagai konsekuensi dan amanah dalam kehidupan. Jika “keberadaan dan kesadaran kita hanya merupakan derivate dari atribut-atribut artificial” tersebut, maka dapat merendahkan diri kita menjadi hamba sesuatu selain Allah. Ini adalah derajat yang sangat nista dan begitu rendah di mata Nya. Hal ini Allah tegaskan dalam salah satu firman Nya QS Al – A’raaf: 37.

Agar kita tetap mampu mempertahankan jati diri sebagai hamba Allah dan khalifah NYA, yakni agar “fitrah tauhid” tetap terjaga, maka hal yang pertama adalah kita harus buang segala bentuk ilah, kotoran dan penyakit yang melekat padanya terlebih dahulu. Hal ini tidak bisa kita raih, kecuali jika kita senantiasa melakukan zikir kepada Allah (zikrullah). Ketika hati sudah suci, bersih dan lurus, maka niat yang bersumber darinya akan memiliki keikhlasan (beramal hanya karena Alla) yang sangat kita butuhkan. Demikian pula, jika hati telah tersucikan, maka akan baik pulalah perilaku seluruh anggota tubuh kita. Dari sini lahirlah akhlak dan amal shaleh sebagai manifestasi ketakwaan. Inilah yang dimaksud hati yang sudah berzikir( source taken from Menzikirkan Mata Hati)...

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)”

Salam buat saudara2ku sesama pejalan cinta menuju Allah swt…

Terimakasih buat guru2ku yang telah menginspirasi dan memberikan banyak tausiyah dalam perjalanan ini…perbedaan itu indah jika kita mampu menyikapinya secara bijaksana…semua pilihan ada di tangan kita, ingin mengikuti pikiran, rasa, atau fithrah…

 

Hasbunallah ni’mal waqiil..ni’mal maulaa wanni’mannashiir..

3 Comments »

  meloque wrote @

bravo sis…!
mau nambahin, ilah-ilah selain Allah, itu istilahnya thagut. hehe ini baru tau istilah ini dari liqo kmaren.

thagut itu bisa juga dalam bentuk tv. misal, udah waktu solat, lha ko malah nonton tv dulu. nah itu juga termasuk thagut hehehe!

nyambung gak sih??

  novriza hendri wrote @

Bismillah…..

Ayolah…..

Berhenti tuk terus BERTANYA tentang DIRI

Walau Pertanyaan itu akan terus muncul saat SEPI

Saudariku…..

Just Do your Best and Let’s God Do the Rest

Karena…

Tugas Kita hanyalah Berusaha Menjadi Manusia Biasa di hadapan ALLAH SWT

Dan…..

Ku Yakin Kau Tahu Kalo ALLAH SWT Maha Lucu dan Suka Bercanda

Bila SEPI itu datang,

Ingatlah…

Bahwa ALLAH SWT sedang SAPA dirimu

dan IA ingin kau Lebih dekat denganNYA

Jadi…..

Bila Dzikir dan Pikir udah, maka selanjutnya BERBUATLAH lalu BERTAWAKAL

karena TAKDIR hanya hadir ketika tidak ada usaha lagi

  Neighbour wrote @

So Who Am I :)


Your comment

HTML-Tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>